Minggu, 17 Agustus 2014

IRONI-II

Ingin kucabik amarahku sendiri..,
saat kamuflasemu menutup jendela..
Hingga kuberantaki hatimu dengan perkataanku.
… … …
Ruangan ini berdebu,kita perlu memandang keluar.
Ada banyak pemurtadan disana;
di jalanan,
di rumah-ruamh yang hampir rubuh,
di pemukiman kumuh.
… … …
Dan kau masih sibuk bersolek;
dengan filosofimu,
dengan paradigmamu,
dengan gaunmu,
dengan parasmu,
dengan hasratmu yang kau balut agama

Ingin kutikam geramku yang membuncah..,
ketika kau usung kekeliruan sebagai hikmah
Sampai kutuduh nalurimu terbutakan
… … …
Aroma dosa menelisik ke bilik kita,
disana banyak angkara;
saudara kita berjejal kepasrahan
Dan kau masih saja asik tertawa.

Kuhujat diriku dgn dalil-dalil yang kau lemparkan..
Aku pun tersungkur memungut lembaran sajak-sajak klise yang kau jadikan pembenaran..
Hingga kesedihan tak mampu kubendung hanya dengan menekan amarah
… … …
Aku butuh do’a.. yang semestiny keluar dari keimananmu,
Untuk mereka-kaummu;
yang kau biarkan durjana.




 J_A
Medan,02 Sept’12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar