Minggu, 17 Agustus 2014

AIRMATA HUJAN

DIANTARA DUA DIKSI


Aku dan hujan..
Ditengah waktu dan peradaban,
Yang berlari lari..
Yang menari-nari,
Yang menyirami noda-noda di jalanan

Aku menandai waktu-waktu,dalam catatan hujan..
Hujan sendiri adalah isyarat yang tak sempurna kubahasakan..

Waktu menyimpan firasatku
Dalam rinai hujan-
Langit berduka cukup lama,
Seperti laraku yang mengelana..
Lalu turun hujan di sela-sela hari,
Di setiap prahara
Di semua angkara,
Di pedih penat pertikaian dunia

Hujan adalah airmata,-
Air dari mata air..
Yang menjadi hujan
 
 
 
 J_A
Medan,29 Sept’12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar