Senin, 18 Agustus 2014

.. .. ..

Bunga kehilangan dirinya untuk berubah menjadi buah
Entah dia atau dirinya yang lain
Entah berarti atau tidak
Entah masih ada atau akan tiada
Warna,rasa dan baunya hanya sekelumit episode dunia

Kehidupan bermunculan seperti jamur di musim penghujan
Dan akan rebah seperti dedaunan gugur
Lalu musnah seperti ingatan yang hilang

Air menjadi hujan-
Hujan mengairi sungai-
Sungai menjadi lautan-
Lautan menjadi hujan-
Hujan membingkiskan pelangi
:Air menjadi dirinya yang beraneka
Untuk melakoni takdir

Air beriak..,menceritakan kisahnya;
Bersama kicauan burung,rerumputan liar dan bunga-bunga di belantara,
Jauh sebelum kita terlahir
Jauh sebelum keserakahan serta kebencian kita mencemari udara

Apa yang ingin kita jangkau?
Apa yang ingin kita raih?
Bulan dan bintang hanya metafor,
yang realitanya tak mampu kita sentuh,
Walau ia nyata di depan mata
… … …
Aku hanya diriku yang kecil
Aku seperti bunga dan air itu-
Usiaku kian beranjak menuruni tangga kematian
Tapi aku tak ingin kehilangan jiwaku

Aku menuliskan suka-dukaku bukan untukmu
Aku mewarnai hatiku juga bukan untuk siapapun
Tapi untuk melewati hari-hari
Untuk menghayati hidupku

Lantas apa yang ingin kau rampas dariku?
Aku hanya sekeping nyawa yang suatu hari akan musnah
Urungkanlah niatmu
Amarah hanya akan melenakanmu.
Bukankah kau juga akan binasa?

Selama ini alam tak pernah menagih budi dari kita
Selama ini bumi tak pernah membicarakan sakit hatinya
Alam melayani manusia-manusia angkuh seperti kita
Alam memahami dirinya
Alam mencintai tuhan,
tanpa pernah meminta pahala

Aku..dengan bunga,air dan alam..
Meminta maaf padamu,
Atas ketidaksanggupan memenuhi kehendakmu.
Juga berpesan;
Hargailah sekecil apapun arti hidup ini
Nikmati setiap detik nafas dengan beraneka perubahannya
Terima-nikmati-dan rasakan…
Sebelum keabadian menjemput kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar