Perlahan kuurai rangkaian kisahku
Dan angin pun mendengarkannya
Dengan gemerisik,lalu hening selebihnya
Perlahan pula bisikku mengeja selaksa nama dan kata
Waktu yang beranjak sedemikan jauh kiranya tak sedikitpun mengikis ingatanku
Seketika teriakanku membentur tembok-tembok
Dimana raga dan jiwaku terpasung sepi
Sekelompok awan pias membingkai bulan,
Aku memandanginya dari rongga kamarku
Tak ada yang bicara atau menyela..
Ternyata aku berbicara dengan hatiku sendiri
Seraya mengeja guratan takdir yang tertera di langit
Lagi dan lagi wajah ini basah
Tubuh ini rebah
Lelah mecari terjemah
Kenyataan bawah sadarku
Ceritaku kian tak beralur
Tidak pula teratur..
Lalu kunyanyikan lagu bahagia negeri kecilku
Akupun tertidur..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar