… … …
Maaf,mestinya aku tak melewatkan berita-beritamu,termasuk berita-berita yang membuatku tak percaya dengan pikiranku sendiri.
Dan aku putuskan untuk hanya sekedar membacanya, tanpa berlama-lama,karena aku kembali melihat dirimu yang lain
disitu.tapi tak apa..,terlalu naif bagiku untuk menata segalanya
sendirian,seperti fantasi-fantasi yang pernah kita bicarakan,sebelum aku
koma.
Dan saat siuman,aku melihat dirimu yang lain berkelebat.aku
sempat jelas melihatnya,dan kuharap itu kamuflase yang mesti kumaafkan.
Setidaknya itupun sudah lebih baik dari cerita-cerita hitam yang selalu ingin kubingkiskan di pelataran puisimu.
Maafkan kelancanganku..
… …
Ada berapa bentuk senyum yang pernah kau tau?
Ada berapa jenis canda yang kau kenali?
Ada berapa macam kekhawatiran yang kau fahami?
Ada berapa ragam harapan yang kau mengerti?
Aku tak pernah membuat pengecualian..,selain isyarat sederhana yang
kerap tak disadari orang-orang yang mengaku sangat paham tentang hati.
… ..
Jika kita masih saling menyimpan alamat,aku akan kirimkan surat berikutnya..
Tentu dengan tutur kata yang lebih jauh tidak mungkin kuasa menggiring airmatamu.
Sebab,hari-hari kian menyuguhkan pesona serta kecemasan,yang tak cukup hanya dijadikan catatan semata.
karena kau butuh ruang untuk berdandan.. dan itu satu-satunya ruang
yang hanya mungkin bisa dimasuki jiwa yang bersesuaian dengan harapan
yang kau sembunyikan..
Junsu Anai
Kisaran,17 Okt’12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar